Program Auladi Parenting School

pspa

Ingin Anak Shalih? Yuk-Jadi Orangtua Shalih. Yuk upgrade diri kompetensi kita jadi orangtua karena sebagian besar karakter anak kita, orangtualah pembentuknya. Ikuti Pelatihan Orangtua PSPA (PROGRAM SEKOLAH PENGASUHAN ANAK). Program pendidikan untuk orangtua ini ditujukan untuk orangtua atau untuk calon orangtua, untuk memahami dasar-dasar dari pengasuhan dan pendidikan anak di rumah. Program ini diselenggarakan selama dua hari dengan hari pertama mulai pukul 08.00 – 18.00 dan hari kedua pukul 07.30 – 18.00 waktu setempat. Untuk mengetahui jadwal lengkap program di kota Anda silahkan lihat Jadwal

pda

Ingin anak nurut tanpa harus membentak dan melakukan kekerasan pada mereka? Ingin anak-anak terkendali tanpa harus jadi orangtua otoriter? Ikuti Program Disiplin Anak (PDA). PDA adalah program Pendidikan Orangtua yang dirancang khusus untuk orangtua yang memiliki anak usia 0-12 tahun atau siapapun yang terlibat dalam pengasuhan anak usia 0-12 tahun. Durasi program 1 hari dengan dari pukul 08.00 – 17.00 Program ini membahas teknik-teknik dasar mengatasi perilaku-perilaku dasar anak yang tidak diharapkan dan mendorong perilaku anak yang diharapkan. Untuk mengetahui jadwal lengkap program di kota Anda silahkan lihat Jadwal

kcr

Ingin nasihat Anda “didengarkan” remaja Anda? Ingin remaja Anda terbuka pada Anda dan tidak menyembunyikan rahasianya pada Anda? Ingin tahu bagaimana pola komunikasi “nyambung” dengan remaja Anda? Ikuti Pelatihan Orangtua Karunia Cinta Remaja (KCR). KCR adalah program yang diselenggarakan untuk orangtua yang memiliki anak 12 tahun atau lebih atau memiliki anak dengan usia yang dianggap remaja. Program ini berlangsung 1 hari, sekira 7-8 jam dimulai pukul 08.00 dan berakhir sekira pukul 17.00. Untuk mengetahui jadwal lengkap program di kota Anda silahkan lihat Jadwal

pat

Parent As Teacher. Program ini adalah sesi singkat, ceramah dan seminar parenting umum dengan tema-tema yang customized, sepanjang berkaitan dengan masalah pengasuhan dan pendidikan anak. Tema-tema yang dibahas dapat disesuaikan (customize atau pilihan dari tema-tema yang sudah kami sediakan). Program ini disediakan untuk pihak yang ingin sekadar “mencicipi” dulu program kami karena keterbatasan waktu, biaya dan lain-lain. Program ini adalah pengenalan untuk program yang lebih kompleks: PSPA-PDA-KCR. Durasi program adalah 3 jam dengan tema-tema yang telah kami sediakan atau tema pilihan sesuai dengan yang diinginkan.

Latar Belakang

Karena 80% potensi hidup manusia dikembangkan dan ditentukan sejak di dalam kandungan hingga usia 8 tahun, bukankah berarti sebagian besar potensi (karakter) dibentuk oleh keluarga?

Semua orangtua menginginkannya. Semua orangtua menginginkan anak-anaknya menjadi tidak hanya sehat dan cerdas, tapi juga shalih dan shalihah. Para orangtua juga menginginkan memiliki anak-anak yang mandiri, kreatif, memiliki motivasi, memiliki gairah belajar, memilki harga diri dan pandai menyesuaikan diri.

Para orangtua juga menginginkan anak-anak yang menghargai dan bersikap baik pada orang lain. Dan tugas mengasuh anak bagi hampir semua orangtua disadari sebagai tugas utama mereka ketika mereka dianugerahi Allah anak-anak.

Tapi dewasa ini tugas orangtua seperti terasa lebih sulit dan lebih berat dalam menjalankan tugas mengasuh dan mendidik anak dibandingkan dengan dekade-dekade sebelumnya. Perubahan budaya dan sosial masyarakat yang dipengaruhi perkembangan teknologi yang berbeda dari masa-masa sebelumnya mejadi salah satu sebab tak terelakkan.

Ditambah lagi, pendekatan yang tidak tepat dalam mengasuh anak semakin memperparah dan mempersulit orangtua mendampingi perkembangan jiwa anak mereka secara sehat. Karena pendekatan pola asuh yang tidak tepat, orangtua kemudian seperti harus:

– memikul semua tanggung jawab,
– membuat dan mengambil banyak keputusan bagi anak,
– membantu menyelesaikan banyak masalah anak,
– memperbaiki dan mengendalikan semua perilaku anggota keluarga

Kadang, sebagian orangtua seperti menyerah dan akhirnya membiarkan anaknya tumbuh dan berkembang seadanya. Ironisnya, sebagian orangtua yang lain justru melakukan jalan pintas dengan cara-cara melakukan tindakan negatif untuk mengendalikan sikap dan perilaku anak-anak: omelan, ancaman, teguran dan bahkan kemarahan.

Perkara ini ternyata menjadi sangat miris jika mengacu pada fakta mengejutkan yang ditemukan Benyamin S. Bloom, professor pendidikan dari universitas chicago: 50% dari semua potensi hidup manusia terbentuk ketika berada dalam kandungan sampai usia 4 tahun. Lalu 30 % potensi berikutnya terbentuk pada usia 4-8 tahun. Ini berarti 80% potensi dasar manusia terbentuk di rumah, di mana keluarga menjadi pusatnya, jauh sebelum anak-anak ini bersekolah secara formal dan informal. Meski keluarga sangat menentukan potensi manusia ketika dewasa, masalahnya adalah sebagian masyarakat kita pada umumnya tidak pernah disiapkan jadi orangtua ketika menikah.

Maka setiap hari semakin banyak anak menjadi korban ketidakfahaman orangtua bagaimana mengarahkan perilaku anak-anak mereka. Tidak hanya itu saja, pendekatan yang tidak tepat dalam mengasuh anak juga ternyata semakin memelihara dan mengarahkan anak-anak ke arah perilaku negatif.

Tadinya, dengan otoritas yang dimilikinya orangtua berharap agar anak-anak dapat bersikap patuh dan menurut pada mereka yang akhirnya membuat mereka berperilaku baik. Tapi tanpa disadari, justru respon yang tidak tepat atas segala perilaku anak akan mempengaruhi perkembangan jiwa mereka. Hasilnya tidak dirasakan sekarang, tapi kelak ketika menjalani kehidupan mandiri. Ketika mereka menjalani kehidupan yang tantangannya semakin besar, yang ujiannya bisa jadi lebih besar daripada yang dapat kita bayangkan sekarang.

Tidak berlebihan jadinya jika dikaitkan konteks di atas, pendidikan keluarga sebenarnya menjadi tonggak awal yang sangat penting menentukan kualitas bangsa, jauh sebelum pendidikan formal maupun informal dilaksanakan seorang anak.

Sudah saatnya masyarakat memberikan porsi perhatian lebih baik terhadap wilayah pendidikan keluarga. Siapapun memiliki peluang untuk berkontribusi membangun pendidikan keluarga agar lebih berkualitas dengan memfasilitasi masyarakat mengikuti program pelatihan keayahbundaan untuk para orangtua.

Sebagian besar masalah-masalah perilaku anak justru bersumber dari orangtua, bukan dari anak itu sendiri. Tidak satu anak pun yang dilahirkan memiliki niat merusak pikiran dan perilakunya sendiri.

Tanam Bijinya, Kelak Tuai Buahnya.

Menyalahkan lingkungan pergaulan anak dan televisi itu sangat mudah. Sebenarnya itu hanya “pelarian” dari ketidaksadaran sebagain orangtua bahwa pada kenyataannya mereka kurang memberikan pengaruh pada anak atau sudah berusaha memberikan pengaruh tapi pengaruh itu tidak “kena” pada anak karena metodenya yang tidak tepat. Bukankah orangtua lebih kenal lebih dahulu dengan anak daripada teman-temannya? Bukankah orangtua (seharusnya) yang menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak dari kecil dibandingkan teman-temannya? Maka siapakah yang seharusnya lebih berpengaruh? Orangtua atau lingkungan anak? Apatah lagi “hanya” dikalahkan televisi!

Ada banyak pilihan respon yang dapat diberikan orangtua untuk menghadapi sikap dan perilaku tertentu anak. Setiap reaksi yang orangtua pilih untuk menanggapi sikap dan perilaku sehari-hari anak hari ini, akan sangat bepengaruh pada pola sikap dan perilaku anak-anak ketika mereka dewasa kelak. Tanam bijinya sekarang, maka orangtua akan menuai buahnya di masa datang.

Pada konteks tertentu, hasilnya bahkan sudah terasa meski pada saat masih usia remaja. Kami melakukan survei kepada banyak orangtua. Pada saat mereka ditanya kesulitan-kesulitan apa saja yang dihadapi mereka ketika menjalani proses pengasuhan anak? Sebagian memiliki kesamaan jawaban: anak tidak patuh pada orangtua, anak rewel atau anak malas belajar, anak tidak mandiri, anak tak percaya diri, anak tak menyukai aktivitas ibadah dan lain sebagainya.

Sebagian orangtua tidak menerima kenyataan bahwa fitrah (kecenderungan) seorang anak sebenarnya adalah kepada kebaikan. Adapun mereka kadang berbuat negatif (apa yang sering didefinisikan sebagai nakal) tentu saja hal yang wajar sebagaimana seorang anak yang belajar bersepeda tidak langsung terampil bersepeda. Ini disebabkan anak-anak memang belum terampil berbuat positif. Karena itu, kami menemukan banyak bukti, sebagian besar masalah-masalah perilaku anak dan pengasuhan anak justru yang menyebabkan adalah orangtua sendiri.

Apakah potensi positif mereka terpelihara, berkembang dan semakin tumbuh atau justru semakin terpuruk ke arah negatif yang justru menghambat hidup mereka, bergantung pada bagaimana pola asuh yang orangtua terapkan hari ini.

Ketika anak-anak balita, ketika mereka telah dapat bergerak, ketika mulut mereka telah dapat berceloteh, energi mereka begitu luar biasa. Lalu apa yang orangtua lakukan ketika anak menganggu kegiatan masak orangtua di dapur? Ketika mereka mengacak-acak beras? Ketika mereka mencoret-coret tembok? Respon seperti apa yang akan orangtua berikan ketika melihat anak memanjat pohon? Ketika mereka tidak membereskan mainan? Ketika mereka membuat orangtua kesal? Bagaimana respon yang tepat untuk menghadapi tingkah laku anak-anak ini?

Jika orangtua memberikan respon yang tidak tepat, maka orangtua hanya akan merusak potensi anak-anaknya. Kenyataannya, nyaris tidak disadari, sebagian orangtua ternyata menjadi perusak mental anak-anaknya dan sebagian dilakukan ketika anak-anak ini masih balita. Ya, masih balita!

Ketika anak-anak ini memasuki masa remaja, apa yang akan orangtua lakukan ketika mereka melakukan perbuatan yang tidak pantas? Apakah orangtua akan memberitahu dan menyuruh ini dan itu? Berkata jangan? Memberikan hukuman?

Anak memang patuh sementara, tapi ternyata anak melakukannya lagi, lagi dan lagi. Lalu orangtua harus terus memberitahu dan mengingatkannya. Lagi dan lagi. Mengapa kebanyakan cara-cara orangtua seperti itu terbukti tidak berhasil?

Respon orangtua mengatasi perilaku anak, yang menurut orangtua positif, sebagiannya malah ditanggapi negatif oleh anak dan justru menguras banyak energi orangtua sendiri. Hasilnya orangtua rugi, anak pun rugi.

Karena perlakuan yang tidak tepat, ujungnya mereka menjadi tidak mandiri, tidak percaya diri, tidak dapat mengambil keputusan sendiri. And the end, sedikit demi sedikit anak-anak ini dipupuk untuk memiliki konsep diri negatif tentang dirinya sendiri. Padahal, konsep diri begitu berpengaruh terhadap prestasi dan kesuksesan seseorang kelak. Prestasi hidup kita berbanding lurus dengan konsep diri. Konsep diri sebenarnya adalah operating system yang menjalankan komputer mental kita. Bahkan konsep diri dalam jangka pendek sudah berpengaruh terhadap level keberhasilan akademik seorang anak saat mereka sekolah. Temukanlah, betapa perlakuan awal keluarga juga mempengaruhi bagaimana mereka menjalani proses belajar di sekolah.

Anak dengan konsep diri buruk: anak tidak atau kurang percaya diri; anak takut berbuat salah; anak tidak berani mencoba hal-hal baru; anak takut penolakan dan anak tidak suka belajar, kelak memiliki kesulitan lebih untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya dan mungkin juga semakin tersisih untuk menghadapi kehidupan masa depannya. Apapun yang ditanam sekarang di ranah keluarga, buahnya akan dituai kelak setelah mereka dewasa.

Jika kita menyadari keluarga adalah aset penting pendidikan untuk melejitkan kualitas sumberdaya manusia sebuah bangsa, sudah saatnya para orangtua dan pendidik dibekali ilmu dan kemampuan tentang keorangtuaan.

Bekal seperti apa yang orangtua persiapkan untuk mengasuh dan mendidik anak? Darimana orangtua mendapatkan ilmu mendidik anak?

Sebagian orangtua menerapkan pola asuh dan model pendidikan anak dengan metode coba-coba (try and error) dan sebagian lainnya mewarisi pola asuh dan pola pendidikan anak dari induk semangnya dahulu. Sebagian memang berhasil, tapi tak sedikit justru yang malah berakibat buruk bagi proses tumbuh kembang anak-anak yang tidak diduga sebelumnya.

Sebagian besar orang dewasa memang siap menikah tapi tidak disiapkan jadi orangtua ketika mereka menikah. Akibatnya sebagian orangtua mengalami apa yang kami sebut sebagai parenting shock, gegar mengasuh anak, yang salah satunya dengan kerap menggunakan jalan pintas negatif untuk menyelesaikan masalah perilaku anak: marah, membentak dan bahkan melakukan kekerasan fisik kepada anak.

Padahal di beberapa negara lain, seperti diungkapkan Jeanette Vos dan Gordon Dryden dalam buku “The Learning Revolutions: To Change The Way the World Learns” (penerbit Kaifa) menyebutkan bahwa di beberapa negara telah diseleng-garakan beberapa program-program pembelakan pengasuhan anak untuk orangtua.

Di Amerika Serikat misalnya, telah diselenggarakan Program Missouri Parents As Teachers (PAT). Ini dimulai pada 1981 sebagai program percontohan dengan nama Parents as First Teachers (Orang Tua sebagai Guru Pertama). Program tersebut ditujukan untuk mendidik para orang tua, sehingga mereka mampu mendidik anak-anaknya sendiri.

PAT sekarang telah menjadi layanan yang dibiayai pemerintah. Sekitar 60.000 keluarga dengan anak-anak berusia 0-3 tahun telah mengikuti program tersebut. Mereka dibimbing oleh sekitar 1.500 pendidik orang tua terlatih yang bekerja sebagai honorer.

Pada setiap kunjungan, pendidik orang tua itu membawa serta berbagai permainan dan buku yang sesuai dengan fase pertumbuhan anak, mendiskusikan apa yang diharapkan orangtua, dan memberikan selembar kertas berisi tips-tips menstimulasi minat anak pada tahap tersebut.

Di negeri Israel, program seperti ini sudah diselenggarakan terlebih dahulu. Bahkan me-reka sudah menyelenggarakannya sejak 1969 pada saat awal hijrah ke tanah Palestina. Mereka menyelenggarakan program yang diberi nama HIPPY (Home Instruction Program for Preschool Young-sters).

Program tersebut bertujuan untuk memandu keluarga dalam mendidik anak-anak prasekolahnya. Mereka sangat miskin, dan anak-anak mereka kadang terabaikan karena orangtuanya bekerja keras mencari kesejahteraan di tempat yang baru. Seperti halnya PAT, HIPPY melakukan pelatihan langsung di rumah, tetapi ditujukan bagi orangtua dari anak-anak yang berusia empat dan lima tahun.

Belum banyak lembaga di Indonesia yang membantu orang-orang yang dewasa yang siap menikah juga menyiapkan mereka menjadi orangtua. Program-program yang kami selenggarkan diharapkan dapat menjadi media “sekolah” orangtua belajar membekali diri dalam mendampingi anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Program pendidikan orangtua yang kami selenggarakan kami persembahkan untuk menjadi salah satu perintis dan diwujudkan untuk berkhidmat membantu para calon orangtua dan mereka yang sudah jadi orangtua mendapatkan bekal-bekal memadai sehingga mereka siap jadi orangtua. Jika basis pola asuh dan pendidikan di keluarga sudah sehat, maka insya Allah memudahkan pula kualitas kesehatan jiwa masyarakat secara keseluruhan.

Mengapa Penting?

Program pendidikan orangtua yang kami buat dibentuk dan didirikan untuk berkhidmat mengajak, melayani dan membantu masyarakat berpartisipasi dan berkontribusi lebih baik terhadap peningkatan kualitas sumberdaya manusia dimulai dari ranah keluarga.

Secara prinsip program ini bertujuan untuk:

1. Membantu peserta pendidikan/orangtua untuk menjalani proses pengasuhan dengan mudah dan menyenangkan

2. Mendapat pengetahuan tentang persiapan ruang mental yang dapat diberikan pendidikan/orangtua untuk memfasilitasi perkembangan mental positif anak-anak mereka dalam ranah keluarga

3. Memahami prinsip dan pola-pola mendasar sikap dan perilaku anak untuk kemudian memahami pola-pola reaksi seperti apa yang seharusnya diberikan kepada anak untuk mendukung perkembangan mental anak-anak mereka.

4. Memahami bahwa setiap orangtua dapat memberikan kualitas bagi perkembangan anak jika orangtua memiliki pemahaman tentang dukungan mental bagi anak

5. Melatih orangtua untuk dapat berkomunikasi secara sehat dan efektif dalam menjalani proses pengasuhan anak sehingga anak-anak dapat terdorong bersikap dan berperilaku ke arah positif

6. Menumbuhkan motivasi dan gairah belajar orangtua dalam menjalani proses pengasuhan anak

7. Membantu orangtua membina hubungan lebih berkualitas dengan anak untuk mendukung terciptanya keluarga berkualitas yang menenangkan dan mententramkan

Sudah terlalu usang menyalahkan televisi dan lingkungan pergaulan atas perilaku negatif anak dan remaja. Orangtua dan pendidik sesungguhnya memiliki peluang lebih baik untuk membantu anak memiliki daya tahan terhadap dampak negatif televisi dan lingkungan.

Memiliki anak yang shalih haruslah dimulai dari orangtua yang shalih, termasuk metode mendidik yang shalih. Menjadi orangtua dan sekaligus pendidik yang baik bagi anak-anak, tentu tidaklah menjadi monopoli orangtua yang memiliki profesi tertentu.

Apapun latar belakang profesinya, setiap orangtua memiliki peluang untuk menjadi pendidik terbaik bagi putra-putrinya jika orangtua memiliki bekal memadai tentang prinsip-prinsip mendasar pendidikan anak dan mau mengaplikasikan pemahaman tersebut dalam keseharian ketika melakukan tugas mengasuh dan mendidik anak.

Sebagian pendidik, orangtua dan masyarakat semakin hari semakin merasa khawatir terhadap arus negatif media (televisi) dan lingkungan pergaulan anak yang negatif. Tapi rasanya sudah terlalu usang jika masyarakat terus menerus mengkambinghitamkan media dan lingkungan sebagai argumen atas perilaku negatif yang dilakukan anak-anak.

Sebagian besar orangtua memang tak memiliki akses untuk dapat merubah tayangan televisi dan melakukan intervensi terhadap lingkungan agar lebih kondusif. Tapi, para orangtua dan pendidik sesungguhnya masih memiliki kesempatan besar untuk membantu anak-anak agar memiliki daya tahan lebih baik terhadap dampak negatif dari media dan lingkungan pergaulan.

Orangtualah yang sesungguhnya memiliki kewenangan lebih untuk membantu dan mengendalikan anak-anaknya dibandingkan dengan televisi dan lingkungan. Program PSPA dari APS telah membantu banyak orangtua memberikan pemahaman bagaimana membuat anak dapat mengendalikan dirinya sendiri.

Dengan izin Allah, sejak tahun 2005, perhalan-perlahan program kami telah mengikutsertakan dan menghasilkan alumni puluhan ribu orang yang diselenggarakan di puluhan kota di Indonesia
Berikut tanggapan sebagian peserta yang pernah mengikuti program kami:

“Wahhhhhhhh, suer, bagus banget! Dapat dipahami, dimengerti dan mengena di hati. Setelah ini saya berjanji mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Saya juga tunggu level selanjutnya biar saya bisa mom yang dibanggakan buah hati”, (Novy Prasetyo)

“Luar biasa. Saya bersyukur berkesempatan ikut. Sebarkan (APS)! Agar lebih banyak yang mendapatkan manfaat” (Tatik Ida Rohmulyati)

“Mengubah paradigma-paradigma yang ada di bawah sadar kita sehingga saya bisa lebih hati-hati lagi mendidik anak. Dan (tolong) APS masuk desa (juga)!”, (Dwi Hesti Lestari)

“Subhanallah, syarat introspeksi!”, (Nani Mulyati)

“Ternyata, mendidik anak itu harus pake ilmu! Luaskan lagi program ke seluruh pelosok tanah air supaya para orangtua lebih faham dalam mendidik anak”, (Umay K)

“Sebagai guru prasekolah dan ibu seorang anak, insya Allah mulai hari ini saya akan merubah sikap saya yang telah banyak mendzalimi anak saya dan anak didik saya!”, (A. Hidayati)

“Saya jadi bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah terlanjur dilakukan pada anak”, (Amin Mudjizatin)

“Alhamdulillah, ilmu yang sangat berharga yang saya dapatkan. Moga program ini bisa terus istiqomah. Program ini sangat…. sangat…. bermanfaat”, (Novi Pujawati)

“Saya jadi terbuka mata hati dan bertambah wawasan bahwa selama ini ternyata banyak tatacara yang keliru dalam mengemban amanah mendidik anak”, (Widi Sugiarti H)

“Saya telah mengikuti banyak pelatihan, tapi tentang pengasuhan anak, baru kali ini saya mengikuti program yang lengkap, menyenangkan, dan menyentuh seperti program dari Auladi. Bahkan meski diselenggarakan belasan jam, tak bosan kita mengikuti dari awal hingga akhir”. (Mira Roza, anggota DPRD Kab. Bengkalis)

“Saya berterima kasih sekali kepada bu Mira yang telah mengikuti program dari Auladi lalu mengenalkan kepada kami. Saya pikir, memang selama ini kita menjadi orangtua tidak pernah disiapkan jadi orangtua. Jadi, ketika teman saya menawarkan pelatihan-pelatihan orangtua dari Auladi, tanpa pikir panjang saya langsung menerima untuk diikuti khusus anggota kami (inhouse) di Ikatan Keluarga Istri Dewan Kab. Bengkalis (IKBD). Ternyata, setelah saya ikuti, sungguh acara yang mengharukan.. Beruntung kami bisa menyelenggarakan acara ini. ” (Hera Tri Wahyuni, Ketua IKBD Bengkalis)

“Subhanallah, banyak sekali manfaat yang saya dapatkan. Saya akan memakai waktu sisa di dunia pada kebaikan-kebaikan, terutama pada anak dan suami”, (Zirly Nova Jamil, Anggota DPRD Jawa Barat 2004-2009).

Tidak hanya yang telah jadi orangtua, program ini juga sangat berdampak positif bagi mereka yang belum menjadi orangtua dan bahkan belum menikah. Berikut diantara tanggapan para peserta yang termasuk belum menikah:

“Subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar! Sangat mengguggah mata hati sehingga tak terasa sampai saya berlinang air mata”, (Ratika, mahasiswi Universitas Islam Sunan Gunung Djati, Bandung)

“Lebih semakin siap menjadi orangtua karena sudah dibekali banyak ilmu.” (Nining Indriani, S.Pd, Medan)

“Saya merasakan saya seperti sudah memiliki anak dan saya mau melaksanakan semua yang saya dapatkan” (Gustiana Fitri)

“Heboooh…………man! Menyenangkan sekali. Tambah semangat dan lebih siap nih jadi orangtua buat anak-anak nantinya.” (Anonim, Medan)

Program kami memberi peluang kepada para orangtua agar mereka siap menjadi orangtua betulan . Orangtua yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan biologis, tapi mampu memenuhi kebutuhan ruhiah dan mendukung perkembangan jiwa positif anak-anaknya.

Program kami konsisten pada tema-tema kunci pengasuhan anak yang berkaitan dengan perilaku interaksi orangtua-anak dan dapat memberi jalan lebih mudah bagi orangtua memecahkan sendiri solusi untuk berbagai permasalahan perilaku lainnya yang dihadapi ketika menjalani proses pengasuhan anak.

Secara strategis menyelenggarakan program pelatihan orangtua berarti juga:

1. Mendukung peningkatan kualitas sumberdaya manusia di mulai dari lembaga yang berperan sebagai ujung awal dan ujung tombak kehidupan anak: keluarga

2. Menguatkan landasan mental yang semakin kokoh untuk orangtua pendidik sebagai produsen utama penghasil generasi berkualitas

3. Membuat keseimbangan dan menghadirkan ikhtiar lebih komprehensif di bidang pendidikan nonformal (keluarga), selain pendidikan formal dan informal

4. Membantu orangtua mendukung stimulasi dan perlakuan yang lebih baik bagi anak dalam ranah keluarga untuk mendukung kesehatan jiwa anak sehingga mereka dapat mengendalikan dirinya dan memiliki daya tahan lebih baik terhadap media dan lingkungan pergaulan

5. Mengembalikan keluarga sebagai tempat pertama dan utama pendidikan anak dan memberi solusi kepada masyarakat tentang ‘how to’ pendidikan keluarga.

6. Menyelenggarakan program ini juga insya Allah akan menaikkan citra positif lembaga/organisasi/instansi di mata masyarakat karena turut berkontribusi secara real dalam bidang pendidikan nonformal (keluarga) yang belum terphatikan dengan maksimal oleh sistem (negara).

Program pelatihan orangtua yang kami selenggarakan tidak melulu menceramahi dan setelah itu menjadi terlupakan lagi. Program pelatihan orangtua dari Auladi Parenting School dirancang dan dikemas secara menarik, interaktif, yang akan menggugah dan menumbuhkan gairah belajar peserta.

Presentasi oral didukung dengan alat bantu tayangan visual dan irama-irama yang menggugah selera belajar. Sebagian materi pada level tertentu disertai contoh-contoh praktis yang dapat diterapkan peserta di dalam keseharian.

Program pelatihan orangtua dari Auladi memiliki setting SOP yang baku untuk pengkondisian peserta agar materi dapat terserap dan terinstall dalam pikiran secara komprehensif.

Metode-metode diarahkan untuk mengundang partisipasi pikiran dan melibatkan emosi peserta untuk menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri para peserta. Gabungan kegembiraan dan perenungan menjadi kolaborasi dahsyat untuk makin meneguhkan materi dalam pikiran peserta.

Program pelatihan orangtua dari Auladi menggunakan metode-metode untuk memaksimalkan tersampaikannya tujuan program. Sebagian diantaranya: Ceramah, Games & kompetisi, Cerita, Instalasi sugesti, Diskusi Interaktif, Dukungan presentasi tayangan audio visual untuk membantu peserta mengikat sebanyak-banyaknya makna.

Dari setiap kuisioner yang dilakukan setelah program ataupun dari tanggapan balik yang diterima lembaga kami melalui sms, telepon atau email, sebagian besar orangtua–untuk tak menyebut semuanya–yang telah mengikuti program mengaku cara penyampaian materi program pelatihan orangtua dari Auladi, menyenangkan, mudah dicerna dan sangat mengena:

“Bagus, metode program ini sangat menarik sehingga meresap dalam pikiran dan ingin direalisasikan untuk membentuk kecerdasan pola pikir anak”, (Wini Anjarwati)

“Sangat bagus, interkatif dan tidak membosankan”, (Hamidah, Phone)

“Saya sempat menangis dan terharu. Menenangkan hati dan menyentuh hati (Novia Indriani)

“Sangat bagus karena ditunjang oleh gambar-gambar dan cerita-cerita yang mendidik yang dapat diambil hikmahnya”, (Fitri)

“Sangat terkesan sekali. Praktis tapi jelas dan menarik, (Pipik Kurniati)

“Mudah dicerna, mudah difahami dan sangat meresap di hati”, (Rusyda)

“Sistematis, lugas, lucu. Dari awal hingga akhir tidak membosankan. Bagi orangtua tentu saja sangat bermanfaat.” (Rodhiatul Hasanah Siregar, Psikolog/Dosen Universitas Sumatera Utara)

Penyampaian cukup menarik, interaktif sehingga dapat membangkitkan emosi peserta dan peserta menjadi lebih sadar tentang cara mendidik yang dilakukan selama ini salah. (Elisa Julianti)

Tujuan prinsip metode-metode program adalah agar sebanyak-banyaknya mengundang partisipasi dan melibatkan sedalam-dalamnya emosi peserta, sehingga tujuan materi dapat tersampaikan dengan maksimal.

Disarikan dari pengalaman aplikatif sehari-hari perancang program, dikuatkan dengan referensi-referensi teoritis yang jumlahnya tak terhitung dan dikuatkan dengan pengalaman melatih ribuan orangtua, mematangkan program PSPA insya Allah menjadi semakin berkualitas dan semakin membantu orangtua mendapatkan kenyataan bahwa mengasuh dan mendidik anak dengan disertai bekal memadai, akan membuat tugas mengasuh anak terasa begitu menyenangkan dan membahagiakan.