Cerita Mereka

Selama Ini Hati Saya Tak Terpaut dengan Anak

Oleh: Dina Faradia
Semarang

(Ini salah satu kisah saya, setelah 2 hari ikut training PSPA)

Walaupun Semarang Jepara lumayan jaraknya tapi sepanjang perjalanan pulang saya tidak bisa tidur,  capek tidak saya rasakan karena pikiran saya terbayang anak-anak, ingin segera bertemu.

Saya merasa cara mendidik anak-anak saya salah selama ini, setiap hari ngomel, marah, semua harus serba perfect. Sungguh otoriter dan over nasihat. Tiada hari tanpa omelan.

Tak terasa mobil sudah sampai halaman. Saya masuk rumah pukul 22.00 dengan hati berdebar-debar.
(Anak pertama sdh mondok di pesantren, Anak ketiga ikut saya selama di Semarang)
Setelah menidurkan si bungsu: Jamil, Saya langsung cari kakaknya: Dhira.  Ia sudah terlelap tidur. Saya peluk dia, saya cium dia, walaupun dia tak merasa.

Pagi harinya saya mulai coba, saya bangunkan dengan ciuman-ciuman juga.
Walaupun masih ngantuk sambil malas-malas jalannya ke kamar mandi.

Dhira bertanya “ibu belikan apa buat Dhira?”
Waduh. Trus saya bilang:  ibu punya banyak cerita, nanti malam diceritakan ya.

Agak kecewa sih mendengar jawaban saya, kemudian setelah saya ajak sholat Shubuh berjamaah (biasanya jarang-jarang berjamaah), kemudian sarapan, setelah itu Dhira mengambil buku penghubung untuk saya tanda tangani, lalu ia bicara “Buk, kemarin tanda tangan ibuk tak  buat sendiri, karena hari sabtu minggu gak ada ayah ibuk di rumah (sekolah Dhira libur jumat)”.

Saya jawab dengan lembut “ya sudah jangan diulangi lagi. Nanti ibuk kasih tanda tangan.”

Berikutnya saya pura-pura mencari-cari nilai-nilai ulangan Dhira di dalam tas.
Saya kepengin kasih pujian bila ada nilai yang bagus. Ada selembar ulangan soal matematika dengan nilai 100 saya kaget. Padahal gak pernah dia mendapatkan nilai 100.

“Dhira, nilai matematika kamu 100 nak, Alhamdulillah. Cara kamu belajar bagaimana sih kok bisa dapat 100? Ibuk gak pernah nyangka.”

Dhira menjawab “Itu di ajari Mutia sama Naila di kelas. Kemarin pas ada PR Matematika nilai nya Nol karena salah semua.

Deg… Jantung saya terasa berhenti,
Hati saya langsung menangis.
Saya tidak tahu harus berkata apa.
Lalu saya bertanya:
Dhira senang diajari teman atau diajari bu Guru? Atau Dhira kepengin les dimana?

Dhira cuma diam lalu berkata “Dhira pengin les sama guru SD Kampus rumahnya dekat dengan rumah Mutia.”

“Oh ya sudah, besok Dhira sudah boleh mulai les.” lalu saya peluk Dhira.

Dalam hati saya, Ya Allah apa yg saya lakukan selama ini, saya di dekat anak saya, tapi saya tidak pernah memperhatikan anak saya selama ini, jangan sampai terulang seperti kakakmu, maafkan ibumu nak.

Saya semakin menyadari betapa anak saya kurang perhatian dari saya… walaupun saya di dekatnya, tetapi saya tidak pernah mengajaknya bicara dari hati ke hati.

Selama ini yang saya lihat yang penting nilainya bagus, yang penting mau ikut ekstra, yang penting tidak berantem sama adiknya, yang penting segala sesuatu saya kasih…

Ternyata “Perhatian & Ngomong” tidak pernah saya berikan

Semoga bermanfaat