Cerita Mereka

Awalnya Tak Mau, Malah Jadi Terharu

Oleh: Melly Dayanti

Kepala Sekolah Islam Terpadu Al-Azhar, Banda Aceh

 

Setelah beberapa kali saya ikut program pendidikan orangtua yang diisi Abah Ihsan, dengan tekad yang kuat, saya memutuskan bahwa acara PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) bersama Abah Ihsan akan diselenggarakan sebelum tahun ajaran baru untuk calon wali murid dengan dilaksanakan 2 tahap karena mengingat wali murid yang melebihi 300 orang.

Ketika mensosialisasikan program parenting ini kepada orangtua murid baru, banyak sekali penentangan dari orangtua murid. Ada yang tidak mau ikut program ini karena merasa ilmunya tentang pengasuhan anak sudah cukup sampai-sampai mengeluarkan kata-kata “saya sudah S3 jadi kalau masalah anak saya sudah sangat faham dan biarlah saya yang mengajari isteri saya”. Ada juga yang lain memang tidak suka jika ikut acara-acara seperti ini tapi kami tetap konsisten dengan kegiatan ini.

Ada juga yang dengan wajah tidak bersahabat marah-marah  protes tidak mau ikut acara seperti ini dan bahkan menanyakan “kenapa harus program ini? Apa ga ada yang lain?” Beragam pertanyaan yang menyudutkan namun dengan bermacam pengalaman yang sudah dihadapi panitia maka hal itu sudah menjadi hal yang biasa dan bisa dilewati tanpa emosi.

Tetapi semua penentangan itu menjadi sirna setelah selesai acara. Mulai ada perasaan puas dan senang melihat kepuasan dan kesenangan orang tua murid yang merasa sangat bersyukur sudah menjadi peserta program PSPA ini. Malahan ada yang mengatakan “kenapa saya terlambat mengikutinya dan kenapa cuma 2 hari?”

Ada rasa sedih dan terharu setelah selesai acara. Rasa sedih karena saya merasa telah memaksa dan mengharuskan orang tua atau wali murid mengikuti acara ini dan terharu karena melihat reaksi dari peserta yang sangat senang telah diikutkan acara seperti ini. Rasa haru bercampur sedih dan rasa syukur kepada Allah tak henti saya ucapkan karena walau pun diawal dari mulai pendaftaran hingga pada hari H begitu menegangkan namun Allah memberikan kekuatan serta kesabaran kepada saya sehingga bisa bertahan dan tetap istiqomah dengan niat awal.

Semenjak mendapat pengalaman-pengalaman yang berharga dari acara tersebut dan mendengarkan respon orangtua dan hasilnya di sekolah, saya semakin yakin dan mantap untuk menjadikan program parenting PSPA adalah program unggulan di sekolah tempat saya bertugas.

Ayah dan bunda tahu ga sih? Kebanyakan yang terjadi adalah orang-orang yang diawalnya bertentangan, protes dan tidak mau ikut PSPA malahan diakhir acara mereka pulalah yang begitu histeris mengucapkan kenapa kami terlambat mengetahui hal ini? Kenapa Cuma 2 hari saja? Alhamdulillah Allah sudah melembutkan hati-hati yang keras melalui program PSPA ini.

Inilah kisah yang indah dan pengalaman yang menegangkan diawalnya namun diakhirnya terjadi perubahan yang luar biasa pada banyak orangtua murid kami. Bukankah manusia yang baik itu diakhir hidupnya adalah penuh dengan kebaikan dan amal sholeh? Moga pengalaman ini menjadi inspirasi buat yang lain dan yang paling utama untuk saya sendiri agar tetap istiqomah pada kebaikan. Jika kita tidak mampu memberikan tarbiyah langsung kepada orang lain maka ringankanlah hati kita, luangkanlah waktu kita, berikan ide terbaik kita untuk kebaikan umat, mungkin orang lain yang men-tarbiyah, tapi kita yang menjadi jalannya.