Cerita Mereka

Ternyata Anak Mudah Dikendalikan

Oleh: Indri Yeni

Ibu dari 1 Orang Anak yang Super Duper Aktif

DAHSYAT!! 1 kata yang bisa saya ungkapkan dari hati setelah setelah mempraktikkan ilmu. Alhamdulillah nya anak saya baru 1, jadi bisa saya praktikkan ke anak-anak saya selanjutnya ilmu-ilmu yangAbah Ihsan sampaikan.  Dulu… (nggak dulu-dulu banget sih, lebih tepatnya pada waktu itu…) sebelum saya ikutan program-program pengasuhan ini, saya termasuk ‘umi’ yang tak sabaran, cepet esmosi. Alhamdulillah Abi nya penyabar kepada anaknya. Jadi seimbang deh. Allah maha seadil-adilnya.

Anak saya itu namanya Azzam, usianya saat ini 3 tahun 5 bulan 14 hari. Subhanallah anak saya terbilang cukup aktif, pintar, kritis juga. Dan juga punya prilaku-perilaku yang menjengkelkan selayaknya anak-anak seusianya. Setelah pulang dari salah satu kelas pengasuhan abah ihsan, yaitu PDA, saya belum sempat diskusikan tentang mempraktikkan tentang ilmu yang sudah saya dapatkan kepada abinya. Sudah nggak sabar sih! Karena abinya masih ada urusan kantor, jadi belum pas momentnya untuk diskusi.

Tibalah pagi hari kami berdiskusi, tentang “SOP” keluarga kami (yang sudah abah ajarkan). Hari itupun berjalan, dimulai dengan anak saya minta sesuatu yang tidak kami setujui.  Dengan senangnya saya jawab “tidak” dengan gerakan tangan dan tersenyum. Dan ikhtiar nya anak saya nangis. Nggak apa-apa.  Kata abah harus ‘tega’. Alhamdulillah anak saya berhenti nangis, walaupun tetep maksa, saya tetap katakan “tidak” dengan gerakan tangann dan senyuman.

Hari-hari berikutnya pun begitu, dimulai dari minta es, kata “tidak”dengan senyuman pun terucap dari mulut saya. Dia pun masih maksa, tetep saya katakan “tidak” dengan gerakan tangan dan senyuman. Hari selanjutnya, merengek lagi minta sesuatu, dan kata “tidak” dengan gerakan tangan dan senyuman pun hanya terucap sekali dari saya.  Anak saya langsung faham tanpa merengek-rengek seperti biasanya.  Tanpa harus menguras tenaga saya untuk marah-marah, sebelumnya pake marah-marah dulu, udah marah-marah, tapi tetap di “iya” kan kemauan anak, karena nggak sabar atau dengan ancaman “Ya  Allah.. hamba mohon ampun atas prilaku buruk hamba kepada anak hamba..”

Ternyata yang buruk pun berasal dari orangtua, tapi subhanallah, amazing!! Harus sabar memang mendidik anak, karena amal ibadah kita terletak disini, “anak aja begitu sabar menangis, orangtua harus lebih sabar lagi donk.. “
Dan selanjutnya setelah itu, kami beritahu kepada Azzam bahwa jadwal beli mainannya adalah tanggal 1 setiap bulan. Walaupun belum tahu tanggal, tapi tetap kami kasih tahu karena Azzam yang tergolong sering sekali beli mainan, entah abang-abang yang suka lewat depan rumah ataupun setiap belanja bulanan.

Pernah suatu hari, keukeuh dengan pilihan mainannya di pusat perbelanjaan, dia sempat kami tinggal dan dilihat dari jauh. Dia ditanya satpam, dan alhasil dia nangis mencari umi dan abinya, Lalu kami pun menakuti bahwa kalau nangis disini minta mainan, diomelin pak satpam (jadi senjata saya kalau dia nangis minta mainan). Padahal hal sepele itu sangat fatal akibatnya, karena nggak mungkin pak satpam ngomelin anak kita, paling ditanya aja. Berarti sama saja kita bohong kepada anak kita, semakin kita bohong, jangan salahkan anak kita jadi seorang yang pembangkang. Naudzubillahi min dzalik.

Tepatnya tanggal 20-an saya pergi ke pusat perbelanjaan, untuk membeli sesuatu pada saat itu anak saya ikut, dia melihat mainan sepeda bisa muter atau jalan. Anak saya berkata: “umi, Azzam mau itu..”

“Azzam beli mainan tanggal berapa ya? tanggal 1 kan?”

“orang Azzam mau liat doang mi, nggak beli ko”

“oh iya boleh ko lihat aja, beli nya tanggal 1 ya sayang”.

Subhanallah lagi, dia mengerti tanpa harus merengek-rengek. Hari selanjutnya, dia mau beli mainan lagi, dan dia ingat “beli mainan nya tgl 1 ya mi?” Saya jawab “iya sayang, tanggal 1 ya, sekarang masih tanggal 24, masih 7 hari lg…” Dia dengan senang menjawab “oke mi”. Subahanallah.

Dan hari selanjutnya tibalah saya untuk belanja bulanan (belum tanggal 1). Sebelum berangkat kami bernegoisasi dulu. Abinya say “Azzam, kita mau temani umi belanja, Azzam boleh beli makanan, tapi tdk beli mainan ya”

Azzam jawab”iya Bi, tanggal 1 ya Bi beli mainan nya.” Subhanallah, selalu dia ingat tanggal 1 itu (padahal dia ngga tau tuh apakah dia dibohongin atau ngga ya sama orangtuanya, tp insya Allah saya tidak bohong loh ya). Tibalah di pusat perbelanjaan, dan membeli kebutuhan-kebutuhan keluarga, dan Azzam pun hanya mengambil 1-2 makanan kesukaannya, dan tidak merengek minta mainan, walaupun kami melewati keranjang mainan. Ini benar-benar subhanallah dari awal datang sampai selesai belanja dan sampai di rumah pun dia tidak menangis meminta sesuatu, dan kami sangat senang dengan prilaku dia saat itu.

Tanggal berganti tanggal, tibalah tgl 1 Desember, alhamdulillah abinya libur kerja (sebelumnya tanggal 1 ada jadwal masuk kantor, ya dengan keyakinan yang kuat untuk menepati janji kepad anak, berdoa saja semoga dimudahkan jalannya, dan ternyata Allah mengabulkan, Allah memudahkannya. Hari itu saya bilang dengan Azzam “Azzam, hari ini tanggal 1″ Azzam berkata “alhamdulillah mi, Azzam beli mainan sepeda-sepedaan ya? (Dengan raut wajah yang sangat senang). Dan kamipun menepati janji kami untuk belikan mainan sepeda-sepedaan itu.

Luar biasa dahsyat, anak saya alhamdulillah sudah tidak konsumtif jajan dan mainan lagi, tidak sampai 2 minggu saya mempraktikkkan ilmu dari abah, langsung berhasil, walau masih ada nggak teganya.

Prilaku lainnya yang sepele tapi akan berkelanjutan jika tidak diubah cara kita dalam mendisiplinkan anak kita, seperti bangun siang, susah mandi, susah makan, cengeng, memukul, berkata kasar, itu semua alhamdulillah kami sudah atasi, dengan dukungan dari semua keluarga (terutama keluarga sy, karena kami tinggal dekat dengan rumah orangtua saya) karena Azzam sangat disayang dengan kakek neneknya, dan semua kakek nenek di dunia ini, pasti sangat sayang dengan cucunya, walaupun itu bertentangan dg SOP keluarga kita. Tapi itu semua sekali lagi saya sudah tuntaskan, dengan diskusi dengan kakek neneknya serta keluarga yang lain.

Buatlah anak percaya dengan kita sebagai oragtuanya, insya Allah, akan kita selesaikan masalah-masalah itu. Yuk ubah pola fikir kita dalam mendidik anak2 kita.  Jazakallah khoiron katsir kepada Abah Ihsan yang sudah berikan ilmunya, insyaAllah sangat bermanfaat sekali.

TERUNTUK SUAMIKU, syukron Abi sudah izinkan Umi ikut PDA untuk terus belajar menjadi umi yang sholihah. Saya tidak menyesal ikut PDA ini dan mengeluarkan investasi sejumlah itu, karena itu salah satu ikhtiar kami untuk menjadi abi dan umi yang shalih dan menjadikan anak2 yang sholih dan sholihah tentunya. Dan insyaAllah anak kami sudah menemukan “teman Sejati” nya, yaitu abi dan umi nya. Wallahu’alam bi showwab.