Cerita Mereka

Saya Asli Bali dan Beragama Hindu

Selamat pagi Abah…

Perkenalkan, saya mama Bian. Saya asli Bali, dan beragama Hindu. Saya baru tiga bulan tinggal di Semarang. Kami pindah untuk melanjutkan kuliah lagi di Semarang. Sebelum kami memutuskan untuk pindah dan kuliah bersama, kami menimbang baik buruknya. Dan akhirnya, dengan alasan biar tetap bisa mengasuh anak kami, bersama-sama, maka kami pun berangkat ke Semarang. Usia Bian baru 3 tahun 9 bulan. Dia anak laki-laki yang aktif dan ceria. Jauh sebelum kami berangkat, kami sudah bicara dengannya tentang rencana kepindahan kami.

Akhirnya, kami pun mulai menetap di Semarang pada bulan Juli. Hal pertama yang kami lakukan adalah mencarikan sekolah yang nyaman buat Bian, karena Bian sudah memasuki usia PAUD dan kami pun butuh partner yang kami bisa percaya untuk bersama-sama mengasuh dan mendidik Bian. Kami juga butuh daycare, karena kami masih harus kuliah. Setelah kami melakukan survey di beberapa sekolah di Semarang, kami pun memutuskan untuk menyekolahkan Bian di Bintang Juara. Salah satu hal yang membuat sekolah ini bagus adalah sekolah ini memberi jembatan bagi kami para orang tua untuk bisa belajar menjadi orang tua.

Hingga pada suatu hari, saya melihat sebuah brosur dan pamplet di sekolah Bian tentang PSPA. Saya pun tertarik untuk ikut. Saya merasa butuh, karena jujur selama ini saya merasa kalau saya kurang terampil dalam mengasuh Bian. Apalagi dengan hasutan rasa bersalah kami pada Bian yang seolah-olah kami memaksa dia untuk ikut bersama kami, lalu kami memanjakan dia. Belum lagi, dia anak pertama, dan kami menunggu kehadiran dia selama dua tahun. Bisa dibayangkan, bagaimana kami memperlakukan dia. kami bahkan membolehkan dan mengiyakan apa pun yang ia minta. Tetapi, kami pada akhirnya sadar bahwa itu tidak boleh. kami ingin berubah, tapi kami tidak tahu bagaimana caranya. Sebelumnya, saya pernah mengikuti seminar parenting, saya juga baca berbagai artikel dan buku tentang parenting, tapi tetap saja saya bingung harus bagaimana.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mendaftar dan ikut sebagai peserta PSPA. Awalnya saya sedikit ragu, karena judulnya adalah “Yuk, jadi orang tua shalih”. pemahaman saya, ini pasti ditujukan oleh orang tua yang (maaf) beragama Islam. Saya lalu bertanya pada bunda Vivi, selaku penyelenggara kegiatan ini, apakah saya yang Hindu boleh ikut belajar? beliau mengatakan “tentu saja, mama!” . Saya pun mendaftar di bulan Juli, padahal kegiatan baru di bulan September. Saya buka web pspa, dan membaca testimoni-testimoni dari para alumni pspa. Mengetahui testimoni dari para alumni, saya makin semangat untuk ikut belajar. Saya mengosongkan jadwal saya di tanggal 12-13 September, hanya untuk mengikuti pspa, padahal di hari itu harusnya saya ikut konferensi internasional di Salatiga, sebagai salah satu syarat nanti ujian disertasi saya. Teman-teman sekelas saya semua ikut konferensi tersebut, kecuali saya. Bagi saya, pspa jauh lebih penting dibandingkan konferensi itu.

Dan benar saja!!! keputusan saya untuk mengikuti pspa sungguh tepat. Bagi saya, ini sebuah keberkahan dan luar biasa. Tuhan mengijinkan saya untuk ikut, melapangkan hati saya untuk bisa menerima perbedaan. Jujur, awalnya, saya merasa aneh, karena saya satu-satunya perempuan yang ikut pspa tanpa menggunakan jilbab, tapi pada akhirnya keanehan itu melumer. Saya benar-benar dapat materi dan substansi, serta langkah praktis yang langsung bisa dipraktekkan ketika bersama anak. Sekarang tidak ada istilah lagi memanjakan anak, yang ada adalah membangun kedekatan bersama anak, memberi kebebasan, lalu memberi batasan, dan tetap memberi ketegasan pada anak.

Abah membuat saya kembali berkaca tentang apa yang sudah saya lakukan, tidak hanya kepada anak, tetapi juga kepada suami, orang tua, dan mertua. Saya bisa belajar tentang bagaimana seharusnya kita bisa memanusiakan manusia. Sebelum ikut kegiatan ini, saya terlalu banyak menuntut pada anak, suami, ortu, dan mertua. saya tidak pernah merasa puas atas apa yang sudah mereka lakukan untuk saya. Tetapi, setelah ikut kegiatan ini, saya bisa lebih paham dan bisa lebih melihat kebaikan pada anak, suami, orang tua, dan mertua saya. dan efeknya sangaaaaaatttt luar biasa, saya merasa ringan..bahagia…!!!

Benar kata abah, ini dua hari untuk selamanya. Walau memang bukan berarti saya sudah paham semuanya hanya dalam dua hari. Sebagai manusia yang juga punya batasan, saya juga tetap harus belajar lagi, lihat contekan lagi hehe , dan syukurnya abah juga memmberikan ruang bagi kami para alumni untuk tetap bisa berkonsultasi dan belajar bersama.

Saya ingin menjadi manusia terbaik abah… dan saya suka ungkapan abah “lebay bagi yang biasa garing” hehe… saya mulai belajar untuk tidak pelit dan jaim untuk menunjukkan rasa sayang pada anak, suami, ortu, dan mertua. karena benar kata abah, kita tak tahu sampai kapan kita diijinkan untuk meminjam nafasNYA.

Terima kasih abah, sudah menjadi fasilitator bagi kami, para orang tua untuk senantiasa belajar menjadi orang tua BETULAN, bukan orang tua KEBETULAN. Untuk selalu meluangkan waktu untuk BERSAMA anak, bukan hanya di DEKAT anak. Semoga Tuhan senantiasa memberi abah kesehatan, dan selalu bermanfaat buat banyak orang.

Salam,

Mama Bian