Cerita Mereka

Ya Allah, Bimbing Kami Agar Mampu Tunaikan Amanah Mendidik Anak Kami

Untuk Bpk Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, motivator leader Auladi Awareness Training (AAT) di tempat.

Pak Ihsan yang dirahmati Allah…

Saya seorang ibu dari 3 anak berusia 5,5 tahun dan kembar perempuan‐laki‐laki 2,7 tahun. Sejak saya dan suami mengikuti AAT Basic, saya bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberi kesempatan saya mengikutinya. Ternyata program ini adalah jawaban dari munajat saya kepada Allah.

Saat saya menerima informasi training Pak Ihsan, saya langsung tergerak mengikutinya, begitu juga dengan suami. Kami merasa perlu mengikutinya. Kemantapan hati semoga menjadi tanda bahwa inilah petunjuk Allah menuju jalan yang diridhoi-Nya.

Subhanallah, Allah memang memberikan ‘lebih dari yang dibayangkan’. Selama 2 hari saya mengikuti training Bapak, ibaratnya saya menonton film dosa‐dosa sama anak selama ini. Tetes‐tetes air mata tak terbendung dari awal hingga akhir. Begitu banyak kesalahan yang saya perbuat, tapi terlewati begitu saja tanpa hikmah yang saya dapat.

Selama ini saya berbangga hati karena sudah tak ‘ingin lagi’ bekerja fulltimer. Dulu, dengan jenjang pendidikan S2 dan nilai akademis yang saya raih, membuat alam bawah sadar saya tertanam bahwa yang hebat itu ya wanita karir. Saya merasa terpuruk mengikuti suami di kota minyak, Duri, Riau. Suami dan anak sulung saya sering jadi sasaran ketidaknyamanan saya di Duri.

Memang benar, seperti sudah di-share-kan Bapak, bahwa energi negatif ibu membuat anak terinduksi negatif pula. Setengah hati saya urus anak. Malah yang saya berikan adalah energi negatif dengan melakukan pemaksaan untuk tidur siang, pemaksaan untuk nurut, yang kadang jika kesabaran habis, saya sampai membentak.

Alhamdulillah, Allah masih mau mencurahkan nur hidayah‐Nya, seiring dengan saya menggunakan jilbab dan mulai mentadaburi Al‐Quran, saya mulai merasa ‘nyaman’ menjadi seorang ibu rumah tangga. Ibaratnya, lapis ego pertama, yaitu terpuruk tinggal di kota Minyak ini mulai pupus. Saya mulai melakukan pengendalian nafsu amarah.

Ternyata rasa ‘nyaman’ yang saya rasakan itu semu. Ada lapisan ego berikutnya yang belum terkikis, yaitu ogah‐ogahan mendampingi anak selama beraktivitas di rumah. Yang membuat saya sangat bersyukur, ternyata di pelatihan ini, hati saya tergugah bahwa menjadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja bukanlah berarti kita ini dekat dengan anak, karena begitu banyak ibu rumah tangga yang ada di dekat anaknya di rumah tapi tak menghasilkan apapun, yang dilakukan adalah melakukan aktivitas “sendiri‐sendiri”. ITULAH DIRI SAYA.

Durasi waktu saya bersama anak tidak bisa bertahan lama dan biasanya anak‐anak suka saya alihkan ke ‘mbak‐mbak’nya di rumah. Saya lebih bertahan lama dengan aktivitas saya di depan komputer atau di luar rumah melalui kegiatan‐kegiatan sosial keagamaan.

Alhamdulillah, setelah mengikuti TRAINING abah ihsan ini, saya mengibaratkan di hati saya ada batu karang EGO saya yang sudah mengeras bertahun‐tahun, mulai melumer perlahan‐lahan. Saat di AAT Basic, saya disajikan kemampuan anak dengan stimulasi dan tanpa stimulasi. Betapa sel‐sel saraf yang muncul baru terikat simpul satu dengan yang lain dengan stimulasi dari orangtuanya secara konsisten. Apalagi ternyata selama ini yang saya lakukan menyampaikan informasi dengan nada suruhan (energi negatif), menggurui, tanpa membuat anak berfikir dan berbicara apa yang dirasakannya. Menstimulasi pun benar‐benar seadanya. Modul demi modul yang diajarkan pelatihan Bapak benar‐benar membantu saya.

PRASANGKA BAIK. Di pelatihan bapak, saya mulai mengerti kenapa kita itu harus berprasangka baik dulu sama anak, karena anak itu fitrah. Tapi seringnya saya menghakimi. Apalagi si sulung, seringnya saya salahkan jika bertengkar dengan adik‐adiknya tanpa mengajaknya berdialog. Begitu mudahnya menjudgement dia. Tapi subhanallah, sejak PSPA, salah satu pelatihan Bapak, saya berusaha untuk ‘menghargai dia dulu’. “Ooohhh, kamu marah ya Nak sama adik?” Saat mereka mau bermaaf‐maafan, saya puji dia dengan “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, Engkau telah memberiku anak‐anak yang sholeh”. Very good, good job… masya Allah.

Ternyata imbasnya subhanallah, energi positif yang kami tebarkan, membuat anak nyaman bersama saya.Mereka mulai makin ‘kritis’ karena pola asuh orangtuanya yang membuat mereka rileks. Saya pun mulai perlahan‐lahan bisa bertahan lama bersama anak.

Alhamdulillah. Saya belajar untuk mencari karakter positif anak. Nggak mungkin anak itu nggak ada karakter positifnya. Di hari pertama PSPA, yang saya lakukan mengamati apa ya karakter positif anak‐anak saya? Terima kasih ya Allah, akhirnya saya makin banyak menemukannya. Si sulung, ternyata anak yang gampang minta maaf, yang kedua kalo disuruh nurut, yang ketiga senang beberes. Semakin digali, semakin banyak, kebaikan‐kebaikan mereka. Allahu Akbar. Terima kasih ya Allah. Selama ini saya terhijab oleh kelemahan‐kelamahannya saja, sehingga kadang membuat saya senewen.

KARUNIA BELAJAR. MEAN OF LEARNING. Arti belajar ini, membuat saya lebih rileks mengarahkan anak belajar. Sekarang dimana‐mana ternyata saya bisa ‘belajar’ sama anak‐ anak. Ternyata momen anak‐anak bertanya, adalah momen belajar yang sayang jika terlewati, yang sayang jika saya abaikan. Subhanallah, kadang anak sulung suka bosen bermain sempoa, tapi sekarang momen sempoa yang dia suka di dalam perjalanan mobil, pakai papan jalan, dia dengan asyiknya bisa main sempoa, malah minta nambah soal lagi. Saat anak‐anak saya yang lagi ngebelataknya muncul, saya langsung terngiang, “subhanallah, ternyata disaat itulah mereka sedang belajar”. Cuma setelah tenang, mereka saya arahkan sambil mengajak berfikir.

KARUNIA KONSISTENSI. Dulu saya sering melabel diri saya inkonsistensi. Ternyata hal ini membuat pembenaran dalam diri saya untuk membuat anak ikut‐ikutan nggak tertib dalam menjalani peraturan di rumah. Saya amazing juga, kenapa tiba‐tiba saya bisa termotivasi untuk lebih berjuang.Ternyata alhamdulillah, mulai terasa dampaknya. Saat saya menerapkan main game 1 jam sehari, saat si sulung minta lagi “ma boleh main game?” Dengan tersenyum selebar‐lebarnya, saya berkata “kan udah”. Dia berusaha merayu saya “boleh lah ma main game 1 jam lagi aja?”. Lalu saya bilang “boleh, tapi untuk besok lagi ya.” Full smile ternyata membuat anak lebih nyaman walau ‘permintaannya ditolak’.

KARUNIA KIBLAT, KARUNIA PENDENGAR & KARUNIA SHAFFAAT. Selama ini saya seringnya yang teringat selalu sama anak‐anak, saat tiba‐tiba mereka berbuat ‘heboh’, adalah keburukan‐keburukannya. Wajar, kadang jadinya sewot saat anak‐anak berperilaku menyebalkan. Saya yang suka melabel diri saya sebagai bad listener, jadi termotivasi untuk mendengarkan anak saya bercerita, merasakan apa yang ada di dalam jiwanya, bukannya menyalah‐nyalahkannya.

Subhanallah. Betapa nikmatnya saya cicipi dialog demi dialog bersama anak, titipan terbaik dari Allah. Dulu mana pernah saya merasakan seperti ini. Ternyata benar ada aksi ada reaksi.Selama ini saya hobinya merangsang otak reptil anak. Anak jadi beku mikirnya. Semuanya doktrin, serba diatur, harus… jangan… makanya… panas kuping… otak berfikir ga berkembang… malah membuat ratusan ribu sel saraf otaknya putus. Semoga Allah mengampuni dosa saya selama ini.

Begitulah pengalaman saya makin terasa, bahwa lewat anak bisa mendapatkan ‘surga sebelum surga’. Saya sadar Pak, bahwa puluhan tahun bermain dengan otak reptil, tidaklah mudah seperti semudah membalikkan telapak tangan. Kadang karena sang mama puluhan tahun lebih banyak ‘diotakreptilnya’, saya kehilangan kata‐kata untuk ‘berbicara’ sama anak… Apalagi kalo pas anak sedang ‘menguji’.

Subhanallah, saya sering merinding Pak Ihsan, karena pengaruh energi positif yang kami tebarkan kepada anak‐anak, kami pun menjadi rileks, membuat mereka lebih ‘kritis’, lebih ceria, dan tambah sayang sama orang‐tuanya. Segala pujian kami kepada mereka, kami kembalikan lagi ke Allah, saat mereka berbuat kebaikan sedikit, kami mengucapkan rasa syukur di depan mereka. Saat anak menepati janjinya main game cuma 1 jam, saya langsung berdoa, “Terima kasih ya Allah… Kau anugerah‐kan pada kami anak sholeh yang mau menepati janjinya. Terima kasih ya Allah”. Anak terlihat senang sekali mendengar untaian rasa syukur itu. Bahkan beberapa saat kemudian, dia berkata “ma… tadi aku hebat ya… bisa menepati janji”. Seperti di AAT Basic share‐kan, jika berulang‐ulang, maka akan terekam di kepalanya bahwa “saya butuh melakukan kebaikan, bukan terpaksa melakukan kebaikan.” Tapi biar dia ga geer, saya bilang “semua itu bisa terjadi atas campur tangan Allah Nak. makanya kita selalu mengucapkan… Alhamdulillah… Segala puji hanya milik. (apa nak?).. Allah.”

Ya Allah… bimbinglah kami ya Allah. Pandulah kami ya Allah… dengan setetes kemampuan kami ini ya Allah… dalam mendidik anak‐anak kami agar menjadi penyejuk mata dan hati dan pemimpin orang‐orang yang bertakwa. Tunjukilah kami jalan dalam menggapai‐Nya ya Allah… hamba‐Mu ini hanya mampu berikhtiar, namun selebihnya kuserahkan hasilnya kepada‐Mu ya Allah. Amiin ya robbal alamiin.

Dari hati sanubari yang paling dalam, saya hanya bisa mengucapkan ‘jazakallahu khairon katsiiroon”. Begitu banyak hal yang menggugah saya lewat PSPA ini dan tak terkatakan. Sampai sekarang, jika share dengan teman‐teman… saya ga berhenti merinding bergetar hati saya…

Dan ternyata, Pak Ihsan… praktek dari PSPA ini tidak hanya bisa saya terapkan kepada anak, tapi juga kepada suami, asisten (mbak di rumah), teman… dll… dan efeknya subhanallah.

Mohon maaf lahir batin jika ada yang tidak berkenan. Semoga Allah melipatgandakan kebaikan Bapak kepada kami semua… Semoga Allah selalu melimpahkan hidayah dan taufik‐Nya kepada kita semua. Amiiiin.

Salam persaudaraan dari kami saudara semuslim di Duri.

Wassalamualaikum wr. Wb.

Eva & Suami